TOKOH MATEMATIKA DUNIA
Dapat
disebut matematikawan pertama yang merumuskan teorema atau proposisi, dimana
tradisi ini menjadi
lebih jelas setelah dijabarkan oleh Euclid. Landasan matematika sebagai ilmu
terapan rupanya sudah diletakan oleh Thales sebelum muncul Pythagoras yang
membuat bilangan.
https://www.zomato.com › ... ›
2. Pythagoras (582-496 SM)
Pythagoras
adalah orang yang pertama kali mencetuskan aksioma-aksioma, postulatpostulat
yang perlu dijabarkan ter lebih dahulu dalam mengembangkan geometri. Pythagoras
bukan orang yang menemukan suatu teorema Pythagoras namundia berhasil membuat
pembuktian matematis.
Persaudaraan Pythagorasmenemukan sebagai bilangan irrasional.
http://foto.pythagoras.co.id
http://foto.pythagoras.co.id
3. Socrates (427-347 SM)
Ia merupakan seorang filosofi besar dari Yunani. Dia juga
menjadi
pencipta ajaran serba cita, karena itu filosofinya
dinamakan
idealisme. Ajarannya lahir karena pergaulannya dengan kaum
sofis. Plato merupakan ahli piker pertama yang menerima paham adanya alam bukan benda.
https://id.wikipedia.org/wiki/Socrates
4. Ecluides (325-265 SM)
Euklides
disebut sebagai “Bapak
Geometri” karena
menemuka
teori bilangan dan geometri. Subyek-subyek
yang dibahas adalah bentuk-bentuk, teorema
Pythagoras, persamaan dalam aljabar,
lingkaran,
tangen,geometri ruang, teori proporsi dan
lain-lain.
Alat-alat temuan Eukluides antara lain mistar dan jangka
https://jumali264.wordpress/tokoh-matematika.com
5.
Archimedes (287-212 SM)
Dia mengaplikasikan prinsip fisika dan matematika. Dan
juga menemukan perhitungan π (pi) dalam menghitung luas lingkaran. Ia adalah
ahli matematika terbesar sepanjang zaman dan di zaman kuno. Tiga kaaarya
Archimedes membahas geometri bidang datar, yaitu pengukuran lingkaran,
kuadratur dari parabola dan spiral.
https://jumali264.wordpress/tokoh-matematika.com
6. Appolonius (262-190 SM)
Konsepnya mengenai parabola, hiperbola, dan elips
banyak
memberi sumbangan bagi
astronomi modern. Ia merupakan
seorang matematikawan
tang ahli dalam geometri. Teorema
Appolonius menghubungkan
beberapa unsur dalam segitiga.https://jumali264.wordpress/tokoh-matematika.com
7. Diophantus (250-200 SM)
Ia merupakan “Bapak
Aljabar” bagi Babilonia yang mengembangkan konsep-konsep aljabar
Babilonia. Seorang matematikawan Yunani yang bermukim di Iskandaria. Karya
besar Diophantus berupa buku
aritmatika, buku karangan pertama tentang system aljabar. Bagian
yang terpelihara dari aritmatika Diophantus berisi pemecahan kira-kira 130 soal yang menghasilkan persamaan-persamaan tingkat pertama.
http://unknown-mboh.blogspot.co.id/2012/09/tokoh-matematika-dunia.html
Hubungan Filsafat Dengan Matematika
Matematika dan filsafat mempunyai
sejarah keterikatan satu dengan yang lain sejak jaman Yunani Kuno. Matematika
di samping merupakan sumber dan inspirasi bagi para filsuf, metodenya juga
banyak diadopsi untuk mendeskripsikan pemikiran filsafat. Kita bahkan mengenal
beberapa matematikawan yang sekaligus sebagai sorang filsuf, misalnya
Descartes, Leibniz, Bolzano, Dedekind, Frege, Brouwer, Hilbert, Godel, and
Weyl. Pada abad terakhir di mana logika yang merupakan kajian sekaligus pondasi
matematika menjadi bahan kajian penting baik oleh para matematikawan maupun
oleh para filsuf. Logika matematika mempunyai peranan hingga sampai era
filsafat kontemporer di mana banyak para filsuf kemudian mempelajari logika.
Logika matematika telah memberi inspirasi kepada pemikiran filsuf, kemudian
para filsuf juga berusaha mengembangkan pemikiran logika misalnya “logika
modal”, yang kemudian dikembangkan lagi oleh para matematikawan dan
bermanfaat bagi pengembangan program komputer dan analisis bahasa. Salah satu
titik krusial yang menjadi masalah bersama oleh matematika maupun filsafat
misalnya persoalan pondasi matematika. Baik matematikawan maupun para filsuf
bersama-sama berkepentingan untuk menelaah apakah ada pondasi matematika? Jika
ada apakah pondasi itu bersifat tunggal atau jamak? Jika bersifat tunggal maka
apakah pondasi itu? Jika bersifat jamak maka bagaimana kita tahu bahwa satu
atau beberapa diantaranya lebih utama atau tidak lebih utama sebagai pondasi?
Pada abad 20, Cantor diteruskan oleh Sir Bertrand Russell, mengembangkan teori
himpunan dan teori tipe, dengan maksud untuk menggunakannya sebagai pondasi
matematika. Namun kajian filsafat telah mendapatkan bahwa di sini terdapat
paradoks atau inkonsistensi yang kemudian membangkitkan kembali motivasi matematikawan
di dalam menemukan hakekat dari sistem matematika.
Dengan teori ketidak-lengkapan,
akhirnya Godel menyimpulkan bahwa suatu sistem matematika jika dia lengkap maka
pastilah tidak akan konsisten; tetapi jika dia konsisten maka dia patilah tidak
akan lengkap. Hakekat dari kebenaran secara bersama dipelajari secara intensif
baik oleh filsafat maupun matematika. Kajian nilai kebenaran secara intensif
dipelajari oleh bidang epistemologi dan filsafat bahasa. Di dalam matematika,
melalui logika formal, nilai kebenaran juga dipelajari secara intensif. Kripke,
S. dan Feferman (Antonelli, A., Urquhart, A., dan Zach, R. 2007) telah
merevisi teori tentang nilai kebenaran; dan pada karyanya ini maka matematika
dan filsafat menghadapi masalah bersama. Di lain pihak, pada salah satu kajian
filsafat, yaitu epistemologi, dikembangkan pula epistemologi formal yang
menggunakan pendekatan formal sebagai kegiatan riset filsafat yang menggunakan
inferensi sebagai sebagai metode utama. Inferensi demikian tidak lain tidak
bukan merupakan logika formal yang dapat dikaitkan dengan teori permainan,
pengambilan keputusan, dasar komputer dan teori kemungkinan.
Para matematikawan dan para filsuf secara
bersama-sama masih terlibat di dalam perdebatan mengenai peran intuisi di dalam
pemahaman matematika dan pemahaman ilmu pada umumnya. Terdapat langkah-langkah
di dalam metode matematika yang tidak dapat diterima oleh seorang intuisionis.
Seorang intuisionis tidak dapat menerima aturan logika bahwa kalimat “a atau b”
bernilai benar untuk a bernilai benar dan b bernilai benar. Seorang intuisionis
juga tidak bisa menerima pembuktian dengan metode membuktikan ketidakbenaran
dari ingkarannya. Seorang intuisionis juga tidak dapat menerima bilangan
infinit atau tak hingga sebagai bilangan yang bersifat faktual. Menurut seorang
intuisionis, bilangan infinit bersifat potensial. Oleh karena itu kaum
intuisionis berusaha mengembangkan matematika hanya dengan bilangan yang
bersifat finit atau terhingga.
Banyak filsuf telah menggunakan matematika
untuk membangun teori pengetahuan dan penalaran yang dihasilkan dengan
memanfaatkan bukti-bukti matematika dianggap telah dapat menghasilkan suatu
pencapaian yang memuaskan. Matematika telah menjadi sumber inspirasi yang utama
bagi para filsuf untuk mengembangkan epistemologi dan metafisik. Dari pemikiran
para filsuf yang bersumber pada matematika diantaranya muncul pemikiran atau
pertanyaan: Apakah bilangan atau obyek matematika memang betul-betul ada? Jika
mereka ada apakah di dalam atau di luar pikiran kita? Jika mereka ada di luar
pikiran kita bagaimana kita bisa memahaminya? Jika mereka ada di dalam pikiran
kita bagaimana kita bisa membedakan mereka dengan konsep-konsep kita yang
lainnya? Bagaimana hubungan antara obyek matematika dengan logika? Pertanyaan
tentang “ada” nya obyek matematika merupakan pertanyaan metafisik yang
kedudukannya hampir sama dengan pertanyaan tentang keberadaan obyek-obyek
lainnya seperti universalitas, sifat-sifat benda, dan nilai-nilai; menurut
beberapa filsuf jika obyek-obyek itu ada maka apakah dia terkait dengan ruang
dan waktu? Apakah dia bersifat aktual atau potensi? Apakah dia bersifat
abstrak? Atau konkrit? Jika kita menerima bahwa obyek matematika bersifat
abstrak maka metode atau epistemologi yang bagaimana yang mampu menjelaskan
obyek tersebut? Mungkin kita dapat menggunakan bukti untuk menjelaskan
obyek-obyek tersebut, tetapi bukti selalu bertumpu kepada aksioma. Pada
akhirnya kita akan menjumpai adanya “infinit regress” karena secara
filosofis kita masih harus mempertanyakan kebenaran dan keabsahan sebuah aksioma.
Hannes Leitgeb di (Antonelli, A.,
Urquhart, A., dan Zach, R. 2007) di “Mathematical Methods in Philosophy”
telah menyelidiki penggunaan matematika di filsafat. Dia menyimpulkan bahwa
metode matematika mempunyai kedudukan penting di filsafat. Pada taraf tertentu
matematika dan filsafat mempunyai persoalan-persoalan bersama. Hannes Leitgeb
telah menyelidiki aspek-aspek dalam mana matematika dan filsafat mempunyai
derajat yang sama ketika melakukan penelaahan yatitu kesamaan antara obyek, sifat-sifat
obyek, logika, sistem-sistem, makna kalimat, hukum sebab-akibat, paradoks,
teori permainan dan teori kemungkinan. Para filsuf menggunakan logika
sebab-akibat untuk untuk mengetahui implikasi dari konsep atau pemikirannya,
bahkan untuk membuktikan kebenaran ungkapan-ungkapannya. Joseph N. Manago
(2006) di dalam bukunya “Mathematical Logic and the Philosophy of God and
Man” mendemonstrasikan filsafat menggunakan metode matematika untuk
membuktikan Lemma bahwa terdapat beberapa makhluk hidup bersifat “eternal”.
Makhluk hidup yang tetap hidup disebut bersifat eternal.










0 komentar:
Posting Komentar