A.
Aljabar Himpunan
Himpunan merupakan dasar dari matematika dan semua objek matematika serta
konstruksinya akan kembali pada teori himpunan. Di dalam bab ini, kita akan
membahas pengertian himpunan, notasi dan sifat-sifatnya, tetapi karena tujuan
dari buku ini akan menyajikan dasar-dasar dari analisis real, maka topik
tentang himpunan tidak akan dibahas secara mendetail di buku ini. Bagi pembaca
yang sudah familiar dengan teori himpunan, bab ini dapat ditinggalkan.
Jika A melambangkan himpunan dan x elemen di dalam A, maka sering
dituliskan dengan x Î A sebagai singkatan dari pernyataan x
elemen himpunan A atau x anggota himpunan
A atau himpunan A memuat elemen x.
Jika x bukan elemen di dalam A, maka akan dinotasikan dengan x Ï A. Dari sebuah elemen x dan himpunan A, hanya tepat satu kemungkinan dari
dua pernyataan berikut berlaku:
x Î A atau x Ï A.
Jika A dan B merupakan dua himpunan dan x sebuah elemen, maka terdapat 4
kemungkinan yaitu:
(1) x Î A dan x Î B (2) x Î A dan x Ï B.
(3) x Ï A dan x Î B (4) x Ï A dan x Ï B
Jika setiap
elemen dari A juga termuat di dalam B atau A merupakan himpunan bagian dari B,
akan dituliskan dengan
A Í B atau B Ê A.
Jika A Í B dan terdapat elemen di dalam B yang tidak di dalam A, dikatakan A himpunan bagian (subset) sejati dari B,
dan dinotasikan dengan A Ì B.
Definisi 1.1.1
Dua himpunan
dikatakan sama jika mereka memuat elemen-elemen yang sama. Jika himpunan A dan
B sama, maka dinotasikan dengan A = B.
Dengan kata lain, dua himpunan A dan B dikatakan sama jika syarat (2) dan
(3) di atas tidak berlaku. Secara ekuivalen, kita harus menunjukkan bahwa A Í B dan A Ê B. Penulisan himpunan selain disajikan dengan cara mendaftar dapat juga
disajikan dengan menyebutkan sifat-sifatnya, sehingga suatu himpunan sering
dituliskan sebagai : {x : P(x)}
sebagai lambang
untuk himpunan semua elemen x yang mempunyai sifat P, sering juga dibaca dengan
”himpunan semua x sedemikian hingga P(x)”.
Untuk memberi kejelasan terhadap semesta pembicaraan, notasi di atas
sering juga ditulis dengan
{x Î S : P(x)}
untuk menuliskan
himpunan bagian dari S yang mempunyai sifat P.
Contoh 1
(a) Jika N := {1, 2, 3, ...} melambangkan
himpunan bilangan-bilangan asli maka himpunan
A = {x Î N : x2 – 3x + 2 = 0}
memuat
bilangan-bilangan asli yang memenuhi persamaan x2 – 3x + 2 = 0. Padahal penyelesaian persamaan kuadrat x2
– 3x + 2 = 0 adalah x = 1 atau x = 2.
Dengan demikian, himpunan di atas sering dituliskan dengan cara mendaftar
sebagai A = {1, 2}.
(b). Himpunan
semua bilangan asli genap dapat dinotasikan dengan {2x : x Î N} atau {y Î N: y = 2x, x Î N}.
(c). Himpunan bilangan
bulat dinotasikan dengan
Z := {...,-3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ...}.
Himpunan
bilangan rasional dinosaikan dengan
Q := {m/n : m, n Î Z dan n ¹ 0}.
Catatan:
Kita akan sering menggunakan simbol := dengan pengertian bahwa simbol di
sebelah kiri didefinisikan dengan ekspresi pada sisi kanan.
Sekarang kita akan mengenalkan beberapa operasi pada himpunan yaitu suatu
cara untuk mengkonstruksi himpunan baru berdasarkan pada himpunan-himpunan yang
telah diketahui.
Definisi 1.1.2
Jika A dan B adalah himpunan-himpunan, maka irisan (interseksi) mereka
adalah himpunan semua elemen yang termuat pada himpunan A dan B. Kita akan
menotasikan irisan A dan B dengan A Ç B. (lihat Gambar 1.1.1).
![]() |
|||||
Dengan kata
lain, irisan dari A dan B didefinisikan dengan
A Ç B := {x : x Î A dan x Î B}
Definisi 1.1.3
Jika A dan B adalah himpunan-himpunan, maka gabungan (union) mereka adalah
himpunan semua elemen yang termuat pada himpunan A atau B atau pada A dan B.
Kita akan menotasikan gabungan A dan B dengan A È B. (lihat Gambar 1.1.2).
Dengan kata
lain, gabungan dari A dan B didefinisikan dengan
A È B := {x : x Î A atau x Î B}
Definisi 1.1.4
Himpunan yang
tidak mempunyai elemen dikatakan himpunan kosong (empty or void set) dan
dinotasikan dengan simbol Æ atau { }. Jika A dan B tidak mempunyai elemen bersama
(berarti, A Ç B = { }), maka A dan B dikatakan saling asing (disjoint) atau tidak
beririsan.
Berikut ini akan diberikan beberapa sifat aljabar dari operasi-operasi yang
didefinisikan di atas.
Teorema 1.1.5
Jika A,
B, C adalah sebarang himpunan, maka
(a). A Ç A = A dan A È A = A.
(b). A Ç B = B Ç A dan A È B = B È A.
(c). (A Ç B) Ç C = A Ç (B Ç C) dan (A È B) È C = A È (B È C)
(d). A Ç (B È C) = (A Ç B) È (A Ç C) dan A È (B Ç C) = (A È B) Ç (A È C).
Bukti:
Diserahkan
kepada pembaca sebagai latihan.
Definisi 1.1.6
Jika A dan B merupakan himpunan-himpunan, maka
komplemen dari B relatif terhadap A adalah himpunan semua elemen A yang tidak
termuat di dalam B. Kita akan menotasikan himpunan ini dengan A \ B atau A – B (dibaca A minus B). (lihat Gambar
1.1.3)
Dengan kata
lain,komplemen dari B relatif terhadap A didefinisikan dengan
A \ B := {x Î A : x Ï B}.
Sekarang akan disajikan Hukum De Morgan untuk tiga himpunan, formula yang
lebih umum disajikan di dalam latihan.
Teorema 1.1.7
Jika A, B, C adalah sebarang
himpunan, maka
(a) A \ (B È C) = (A \ B) Ç (A \ C)
(b) A \ (B Ç C) = (A \ B) È (A \ C)
Bukti:
Kita hanya akan menunjukkan sifat a), sedangkan sifat b) diserahkan kepada
pembaca sebagai latihan. Akan ditunjukkan bahwa setiap elemen dari A\(BÈC) termuat di dalam himpunan (A\B)Ç(A\C), dan sebaliknya.
Jika x di dalam A \ (B È C) maka x di
dalam A tetapi x tidak di B È C. Akibatnya x di A tetapi x tidak di B dan tidak di C.
Berarti x Î A\B dan x Î A\C. Jadi x Î (A \ B) Ç (A \ C).
Sebaliknya, jika x Î (A \ B) Ç (A \ C), maka x Î A\B dan x Î A\C. Jadi x Î A dan x Ï A dan x Ï B. Ini berarti x Î A dan x Ï AÈB, sehingga x ÎA\(BÈC).
Karena himpunan A \ (B È C) dan (A \ B) Ç (A \ C) memuat elemen yang sama maka dapat disimpulkan bahwa A \ (B È C) = (A \ B) Ç (A \ C).
Sekarang kita definisikan hasil kali Cartesius dari dua himpunan.
Definisi 1.1.8
Jika A dan B dua
himpunan tidak kosong, maka hasil kali Cartesius dari A dan B, dinotasikan
dengan A x B, adalah himpunan semua
pasangan terurut (a, b) dengan a Î A dan b Î B.
Jika A = {1, 2,3} dan B = {a,b} maka himpunan A x B adalah
A x B = {(1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b)}
Latihan 1.1
1. Buktikan
Teorema 1.1.5.
2. Buktikan
bahwa A Í B jika dan hanya jika AÇB = A.
3. Buktikan
Teorema 1.1.7. b).
4. Jika A Í B, tunjukkan bahwa A = B\(B\A).
5. Tunjukkan
bahwa Æ Í A, untuk sebarang himpunan A.
6. Diberikan sebarang himpunan A dan B, tunjukkan bahwa
himpunan AÇB dan A\B adalah saling asing dan tunjukkan
A = (AÇB) È (A\B)
7. Jika A dan B
sebarang himpunan, tunjukkan bahwa AÇB = A\(A\B).
8. Jika {A1, A2, …, An} merupakan
koleksi himpunan dan E sebarang himpunan, tunjukkan bahwa
9. Jika {A1, A2, …, An}
merupakan koleksi himpunan dan E sebarang himpunan, tunjukkan bahwa
10. Jika A sebarang himpunan, B1 dan B2
subset dari B dengan B = B1ÈB2, maka tunjukkan bahwa A x B = (A x B1)
È (A x B2).
B.
Fungsi
Sekarang akan didiskusikan notasi fundamental dari fungsi atau pemetaan.
Dalam hal ini fungsi akan dipandang sebagai suatu jenis khusus dari suatu
himpunan.
Definisi 1.2.1
Misalkan A dan B
adalah himpunan-himpunan. Fungsi dari A ke B adalah himpunan f dari pasangan terurut di dalam A x B dengan
sifat jika (a, b) dan (a, c) elemen-elemen dari f, maka b = c. Himpunan semua
elemen dari A yang merupakan komponen pertama dari anggota f dikatakan domain
dari f dan dinotasikan dengan D(f).
Himpunan semua elemen dari B yang merupakan komponen kedua dari elemen f dikatakan range dari f atau himpunan nilai dari
f dan dinotasikan dengan R(f)
Jika (a, b) elemen dari fungsi f, maka sering dituliskan
b =f(a) atau
(a, b) Î f.
Definisi 1.2.2
Misalkan f
adalah fungsi dengan domain D(f) di dalam A dan range R(f) di dalam B dan g
adalah fungsi dengan domain D(g) di dalam B dan range R(g) di dalam C.
Komposisi g o f adalah fungsi dari A
ke C yang didefinisikan dengan
g o f := {(a, c) Î A x C : terdapat b Î B sehingga (a, b) Î f dan (b, c) Î g}
Perhatikan bahwa jika f dan g merupakan fungsi dan jika x Î D(f), dengan f(x) merupakan elemen dari D(g), maka domain dari fungsi
komposisi gof adalah himpunan
D(gof) := {x Î D(f) : f(x) Î D(g)}.
Untuk elemen x
di dalam D(gof), nilai gof di x diberikan dengan (gof)(x) := g(f(x)). Ini
berarti range dari gof adalah himpunan
R(gof) := {g(f(x)) : x Î D(gof)}.
Contoh 2
(a). Misalkan f
dan g adalah fungsi-fungsi yang nilainya di bilangan real x didefinisikan
sebagai
f(x) := 2x
dan g(x) := 3x2 – 1.
Karena D(g) adalah himpunan  dari semua bilangan real dan R(f) Í D(g), domain D(gof) juga  dan gof(x) = 3(2x)2 – 1 = 12x2 –
1. Sebaliknya, D(fog) = Â, tetapi fog(x) = 2(3x2 – 1) = 6x2 – 2.
(b). Misalkan F
dan G adalah fungsi-fungsi dengan domain D(F) := {x Î Â : x ³ 0} dan D(G) := Â, sedemikian hingga nilai dari F dan G di titik x dalam domainnya adalah
F(x) := Öx dan G(x) := -x2 – 1.
Maka D(GoF) = {x
Î Â : x ³ 0} dan GoF(x) = -x – 1. Karena G(x) < 0 untuk semua x Î D(G) dan D(F) = {x Î Â : x ³ 0}, maka fungsi FoG tidak terdefinisi di sebarang titik.
Definisi 1.2.3
Misalkan f
adalah fungsi dengan domain D(f) di dalam A dan range R(f) di dalam B. Fungsi f
dikatakan satu-satu atau injektif jika (a, b) dan (c,b) adalah elemen di dalam
f, maka a = c.
Dengan kata lain, f injektif jika dan hanya jika dua relasi f(a) = b dan
f(c) = b mengakibatkan a = c. Juga dapat dikatakan, f injektif jika dan hanya
jika a, c di dalam D(f) dengan a ¹ c, maka f(a) ¹ f(c).
Definisi 1.2.4
Misalkan f adalah fungsi satu-satu dengan
domain D(f) di dalam A dan range R(f) di dalam B. Jika g := {(b, a) Î B x A : (a, b) Î f} maka g adalah fungsi satu-satu dengan domain D(g) = R(f) di dalam B dan
range R(g) = D(f) di dalam A. Fungsi g dikatakan fungsi invers dari f dan
dinotasikan dengan f -1.
Jika f injektif, maka f akan memetakan elemen-elemen yang berbeda di dalam
D(f) ke elemen-elemen yang berbeda di dalam R(f). Jadi, setiap elemen b di
dalam R(f) merupakan peta dari elemen tunggal a di dalam D(f). Fungsi invers f-1
memetakan elemen b ke elemen tunggal a.
Contoh 3
Misalkan f adalah fungsi dengan domain D(F) :=
Â, dengan F(x) := x2. Jelas bahwa F bukan merupakan fungsi
satu-satu, karena pasangan (2,4) dan (-2,4) keduanya termuat di dalam F, dengan
F(2) = 4 = F(-2) tetapi -2 ¹ 2. Karena F tidak satu-satu, maka F tidak mempunyai
invers.
Definisi 1.2.5
Fungsi f adalah
fungsi dengan domain D(f) Í A dan range R(f) Í B. Fungsi f dikatakan pada (surjective atau onto) jika R(f) = B.
Di dalam mendefinisikan fungsi, perlu memperhatikan domain dari fungsi,
karena terdapat suatu fungsi yang surjektif dalam suatu domain tertentu, tetapi
tidak surjektif pada domain yang lain. Sebagi contoh, fungsi f(x) := x2
surjektif dari  pada himpunan {x Î Â : x ³ 0}, tetapi bukan fungsi surjektif dari  pada Â.
Definisi 1.2.6
Fungsi f adalah
fungsi dengan domain D(f) Í A dan range R(f) Í B. Fungsi f dikatakan bijektif jika (i) f satu-satu
(injective) dan (ii) f pada (surjective).
Fungsi yang mempunyai domain himpunan bilangan asli mempunyai peranan
khusus di dalam analisis real. Untuk fungsi demikian, kita mempunyai istilah
khusus, yang dikenalkan sebagai berikut:
Definisi 1.2.7
Barisan pada
himpunan S adalah fungsi yang domainnya adalah himpunan bilangan asli dan yang
rangenya termuat pada himpunan S.
Untuk barisan x : N ® S, nilai x di n
sering dinotasikan dengan xn atau x(n). Barisannya
dinotasikan dengan (xn : n Î N) atau (xn). Ini penting untuk membedakan
barisan (xn) dengan rangenya {xn}. Pembahasan secara
detail untuk barisan akan disampaikan di dalam Bab III.
Latihan 1.2
1. Misalkan A := B := Â dan perhatikan subset C := {(x,y) : x2 + y2 =
1} dari A x B.
Apakah C merupakan fungsi dengan domain R dan range R?
2. Berikan contoh
dua fungsi f dan g pada  ke  sedemikian hingga f ¹ g tetapi fog = gof.
3. Buktikan bahwa
jika f merupakan fungsi injektif dari A ke B, maka f-1 := {(b,a) :
(a,b) Î f} juga merupakan fungsi injektif.
4. Misalkan f
fungsi injektif. Tunjukkan bahwa f-1of(x) = x untuk semua x di D(f)
dan fof-1(y) = y untuk semua y di R(f).
5. Misalkan f dan
g fungsi-fungsi sedemikian hingga
gof(x) = x untuk semua x di D(f)
dan
fog(y) = y untuk semua y di D(g).
Buktikan g = f-1.
6. Tunjukkan
bahwa jika f : A ® B dan E, F subset-subset dari A, maka
f(EÈF) = f(E)Èf(F) dan f(EÇF) Í f(E)Çf(F).
7. Tunjukkan bahwa jika f : A ® B dan G, H subset-subset dari B, maka
f-1(GÈH) = f-1(G)Èf-1(H)
dan f-1(GÇH) = f-1(G)Çf-1(H).
8. Untuk a, b Î Â dengan a < b, tentukan fungsi bijektif dari A := {x : a < x < b}
pada B := {y : 0 < y < 1}.
9. Tunjukkan bahwa jika f : A ® B dan g : B ® C dan H subset dari C, maka
(gof)-1(H) = f-1(g-1(H)).
10. Misalkan f dan g adalah fungsi dan misalkan (gof)(x) = x untuk semua x di
dalam D(f). Tunjukkan bahwa f injektif dan bahwa R(f) Í D(g) dan D(f) Í R(g).
C.
Induksi Matematika
Induksi matematika merupakan metode pembuktian yang penting dan akan sering digunakan di dalam buku ini. Metode
ini digunakan untuk membuktikan kevalidan suatu pernyataan yang berlaku untuk
semua bilangan asli N.
Teorema 1.3.1
(Sifat Terurut
Baik dari N) Setiap subset tak kosong dari N mempunyai
elemen terkecil.
Pernyataan yang
lebih detail dari sifat ini adalah sebagai berikut: Jika S adalah subset dari N
dan S ¹ Æ, maka terdapat elemen m Î S sedemikian hingga m £ k untuk semua k Î S.
Teorema 1.3.2
(Prinsip Induksi Matematika) Jika S adalah subset dari N yang memiliki
sifat-sifat:
(1). 1 Î S
(2). Jika k Î S, maka k + 1 Î S
maka S = N.
Bukti:
Jika diandaikan S ¹ N, maka himpunan N\S tidak kosong, dan selanjutnya dengan Teorema 1.3.1,
N\S memuat elemen terkecil. Misalkan m adalah elemen terkecil dari N \ S.
Berdasarkan hipotesis (1), 1 Î S, maka m ¹ 1. Selanjutnya m > 1, sehingga m – 1 juga bilangan
asli. Karena m – 1 < m dan karena m elemen terkecil dari N sedemikian hingga m Ï S, maka m – 1 di dalam S.
Sekarang, berdasarkan hipotesis (2) untuk elemen k = m – 1 di dalam S,
disimpulkan k + 1 = (m – 1) + 1 = m di dalam S. Kesimpulan ini kontradiksi
dengan m bukan elemen di S. Ini berarti pengandaian salah. Yang benar S =
N.
Prinsip induksi matematika juga sering dinyatakan dengan rumusan sebagai
berikut:
Untuk setiap n Î N, misalkan P(n) pernyataan yang bergantung pada n. Jika
(1’) P(1) benar
(2’) Jika P(k) benar, maka P(k + 1) benar,
maka P(n) benar untuk semua n Î N.
Hubungan dengan
versi sebelumnya dibuat dengan memisalkan S := {n Î N : P(n) benar}.
Contoh-contoh berikut memberikan gambaran bagaimana Prinsip Induksi
Matematika digunakan untuk membuktikan pernyataan-pernyataan yang bergantung
pada bilangan asli.
Contoh 4
(a) Untuk setiap n Î N, jumlah n bilangan asli
Untuk
membuktikan ini misalkan S adalah himpunan semua n Î N sehingga formula di atas berlaku. Kita harus membuktikan syarat (1) dan
(2) di dalam Teorema 1.3.2 dipenuhi. Jika n = 1, maka diperoleh 1 = ½ .1. (1 + 1), sehingga 1 Î S. Jadi syarat (1) di dalam Teorema 1.3.2 dipenuhi. Selanjutnya
diasumsikan bahwa k Î S dan ditunjukkan (k + 1) Î S. Jika k Î S
Jika kedua sisi
ditambah dengan (k + 1)
Ini berarti (k +
1) Î S. Akibatnya syarat (2) di dalam Teorema 1.3.2 dipenuhi. Selanjutnya
dengan Prinsip Induksi Matematika, disimpulkan S = N dan formula benar untuk
semua n Î N.
(b) Untuk setiap
n Î N, jumlah kuadrat n bilangan asli pertama diberikan dengan
Untuk
membuktikan ini misalkan S adalah himpunan semua n Î N sehingga formula di atas berlaku. Kita harus membuktikan syarat (1) dan
(2) di dalam Teorema 1.3.2 dipenuhi. Jika n = 1, maka diperoleh 12 = 1/6 .1.(1 + 1)(2 + 1),
sehingga 1 Î S. Jadi syarat (1) di dalam Teorema 1.3.2 dipenuhi. Selanjutnya
diasumsikan bahwa k Î S dan ditunjukkan (k + 1) Î S. Jika k Î S.
Ini berarti (k +
1) Î S. Akibatnya syarat (2) di dalam Teorema 1.3.2 dipenuhi. Selanjutnya
dengan Prinsip Induksi Matematika, disimpulkan S = N dan formula benar untuk
semua n Î N.
(c).
Ketaksamaan 2n £ (n + 1)! dapat dibuktikan dengan
Prinsip Induksi Matematika sebagai berikut. Untuk n = 1, diperoleh 21
= 2 £ 2!. Jadi pernyataan benar
untuk n = 1. Selanjutnya diasumsikan
pernyataan benar untuk n = k, berarti berlaku
2k £ (k + 1)
dan ditunjukkan
pernyataan benar untuk n = k + 1
2k+1 = 2. 2k £ 2(k + 1)! £ (k + 2)(k + 1)! = (k + 2)!
Ini berarti
pernyatan benar untuk n = k + 1. Dengan menggunakan Prinsip Induksi Matematika
pertidaksamaan di atas benar untuk semua n Î N.
(d). Perhatikan
pernyataan “n + 5 = n” untuk n Î N. Jika S
merupakan himpunan semua bilangan asli yang pernyataan bernilai benar, maka
assumsi k Î S menyebabkan (k + 1) Î S. Ini berarti syarat (2) dari Teorema 1.3.2 dipenuhi.
Tetapi karena pernyataan bernilai salah untuk n = 1, maka syarat (1) tidak
dipenuhi. Jadi pernyataan di atas tidak benar.
(e). Jika r Î Â, r ¹ 1, dan n Î N.
Bentuk ini
merupakan formula untuk jumlah suku-suku dari deret geometri. Ini dapat
dibuktikan dengan Prinsip Induksi Matematika.
Untuk n = 1,
diperoleh 1 + r = (1 – r2)/(1 – r), sehingga formula benar untuk n =
1.
Diassumsikan
pernyataan benar untuk n = k.
Selanjutnya
ditunjukkan pernyataan benar untuk n = k+1, jika kedua ruas ditambah dengan
suku rk+1 diperoleh. Jadi pernyataan
benar untuk n = k+1. Ini berrati berdasarkan Prinsip Induksi Matematika dapat
disimpulkan bahwa pernyataan benar untuk semua n Î N.
Sebetulnya pernyataan di atas dapat dibuktikan secara langsung tanpa harus
menggunakan Prinsip Induksi Matematika. Jika dimisalkan sn := 1 + r + r2 + ...
+ rn, maka rsn = r + r2 + ... + rn+1,
sehingga
(1 – r)sn = sn – rsn = 1 – rn+1
Terdapat versi lain dari Prinsip Induksi Matematika yang juga sering
digunakan untuk membuktikan pernyataan yang berlaku untuk setiap n Î N.
Teorema 1.3.4
(Prinsip Induksi Kuat) Misalkan S adalah subset
dari N sedemikian hingga 1 Î S dan jika {1, 2, 3, ..., k} Í S maka k + 1 Î S. Maka S = N.
Contoh 5
Misalkan barisan (xn) didefinisikan
sebagai berikut: x1 := 1, x2 := 2, dan xn+2 :=
½ (xn+1 + xn) untuk n Î N. Dengan menggunakan Prinsip Induksi kuat akan ditunjukkan bahwa 1 £ xn £ 2 untuk semua n Î N. Untuk n = 1, berlaku 1 £ x1 £ 2. Diassumsikan pernyataan benar untuk n Î {1, 2, ..., k}, selanjutnya ditunjukkan pernyataan benar untuk n = k + 1.
Perhatikan bahwa
1 £ xk-1 £ 2
dan
1 £ xk £ 2.
Akibatnya
2 £ (xk + xk-1) £ 4 atau 1 £ ½ (xk + xk-1) £ 2.
atau
1 £ xk+1 £ 2.
Dengan
menggunakan Prinsip Induksi Kuat dapat
disimpulkan bahwa pernyataan
1 £ xn £ 2 benar untuk semua n Î N.
Latihan 1.3
1. Buktikan
bahwa 12 – 22 + 32
- ... + (-1)n+1n2 = (-1)n+1 n(n+1)/2, untuk
semua n Î N.
2. Buktikan
bahwa n < 2n untuk semua n Î N.
3. Buktikan
bahwa 52n -1 terbagi oleh 8 untuk semua n Î N.
4. Buktikan bahwa
n3 + (n+1)3 + (n+2)3 terbagi habis oleh 9, untuk semua n Î N.
5. Buktikan
bahwa 2n < n! Untuk semua
n ³ 4, n Î N.








0 komentar:
Posting Komentar